BUOL — Program Makan Bergizi (MBG) di wilayah Bokat kembali menjadi sorotan setelah insiden menu tidak layak konsumsi terjadi tepat pada hari pertama SPPG Bongo kembali beroperasi. Peristiwa ini memicu pertanyaan publik, termasuk dari Infobuol, terkait kondisi dapur, penyebab kejadian, hingga dampaknya terhadap siswa penerima manfaat.
Koordinator Wilayah BGN untuk Kabupaten Buol, Tuho Nisman Laia, S.Si, yang dihubungi tim Infobuol mengkonfirmasi bahwa SPPG Bongo kembali aktif pada Senin, 1 Desember 2025, setelah sebelumnya rehat sejak 26 September. Namun di hari yang sama, ditemukan menu MBG yang sudah tidak layak konsumsi.
Tuho membenarkan insiden tersebut. Ia menjelaskan bahwa distribusi paket MBG langsung dihentikan. “Kami juga menarik penuh semua paket MBG yang sudah terlanjur terdistribusi,” ujarnya.
Menanggapi pertanyaan apakah SPPG kembali dinonaktifkan setelah insiden, Tuho menerangkan bahwa penghentian total operasional dapur hanya dapat dilakukan jika terjadi Kejadian Luar Biasa Keracunan Pangan (KLB KP) berdasarkan SOP BGN.
“Di luar insiden KLB KP, penghentian operasional sementara harus melalui izin Kedeputian Pemantauan dan Pengawasan BGN,” jelasnya.
Ia memastikan bahwa pembenahan langsung dilakukan oleh pihak SPPG. Berdasarkan analisis internal, ada dua penyebab utama:
- Keterlambatan suplai daging ayam dari pemasok sehingga memengaruhi proses produksi.
- Perombakan organisasi SPPG yang menghadirkan banyak relawan baru dan belum sepenuhnya terbiasa dengan SOP pengolahan pangan.
“Mitigasi yang kami lakukan meliputi penguatan SOP dari hulu ke hilir, mulai dari suplier hingga relawan. Jumlah penerima manfaat juga dikurangi sementara sampai ritme produksi kembali stabil,” tegas Tuho.
Terkait isu yang beredar bahwa beberapa siswa SD sempat mengonsumsi MBG yang rusak dan mengalami sakit perut, Tuho memberi klarifikasi.
“Memang kami menerima laporan awal mengenai ada siswa yang sakit perut. Namun setelah kami follow up untuk memastikan perawatan siswa, tidak ada laporan susulan dari guru ataupun wali murid,” katanya.
Karena tidak adanya data lanjutan mengenai jumlah maupun identitas siswa yang terdampak, status KLB KP tidak diberlakukan.
Dengan demikian, dugaan bahwa sudah ada korban yang pasti akibat menu MBG tersebut belum dapat dipastikan kebenarannya.
SPPG Buol wilayah Bokat–Bongo menegaskan komitmennya untuk melakukan pembenahan menyeluruh dan memastikan insiden serupa tidak terulang kembali demi keamanan pangan dan pelayanan optimal kepada seluruh siswa penerima manfaat MBG.***
Editor : Infobuol










