Palu, 02 November 2025 — Peluang harus direbut. Kalimat itu menjadi representasi dari perjalanan panjang dan penuh keteguhan yang dilakukan oleh Mami/Maryam G. Mailili (76), seorang tokoh perempuan asal Buol yang telah menyelesaikan naskah Al-Qur’an Terjemahan Berbahasa Daerah Buol. Naskah tersebut ditulis seluruhnya dengan tangan dan kini telah terhimpun dalam 12 album besar, masing-masing berisi halaman penuh bolak-balik. Karya ini digadang-gadang akan menjadi terjemahan Al-Qur’an dalam bahasa Buol — yang berpotensi menjadi bahasa daerah ke-27 atau ke-28 di Indonesia yang memiliki terjemahan resmi dari total 718 bahasa daerah yang ada.
Setelah proses penulisan selesai, tantangan berikutnya adalah bagaimana karya tersebut dapat diterbitkan dan sampai di tangan pembaca. Pemerintah Daerah Kabupaten Buol telah menyatakan komitmen untuk mendukung pembiayaan penerbitan karya tersebut pada tahun anggaran berikutnya. Namun, Mami Maryam meyakini bahwa tanggung jawab ini tidak hanya milik pemerintah, melainkan memerlukan sinergi banyak pihak untuk berkontribusi sesuai kemampuan masing-masing. Selain menjadi kontribusi terhadap peningkatan literasi keagamaan, penerbitan terjemahan ini juga dianggap sebagai upaya menjaga kelestarian bahasa daerah Buol agar tetap hidup dan berkembang.
Kesempatan yang dinanti muncul saat tersiar kabar bahwa Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasarudin Umar, MA, akan menghadiri wisuda mahasiswa UIN Datokarama Palu. Mengetahui hal tersebut, Moh Nur Korompot secara pribadi mengatur strategi untuk membawa proposal penerbitan dan salinan sampel karya untuk diserahkan langsung. Awalnya, rencana itu hanya berupa pengiriman proposal, namun Ibu Maryam memberikan keputusan yang mengejutkan: ia juga akan ikut berangkat. Keputusan tersebut diambil agar pihak yang dituju melihat langsung kesungguhan sang penulis.
Setelah mendengar rencana keberangkatan Mami Maryam, Kepala Kantor Kementerian Agama Buol, Nur Khairi, menyatakan kesiapan untuk mendampingi proses tersebut. Kebetulan, ia juga memiliki agenda menghadiri pengarahan ASN oleh Menteri Agama bersama FKUB serta tokoh lintas profesi di Palu. Perjalanan jauh ditempuh hingga tiba di Palu pada dini hari. Keesokan harinya, Mami Maryam dan tim sudah berada di Hotel BW, Jalan Basuki Rahmat, sejak pukul 09.30 pagi hingga acara selesai sekitar pukul 16.00 WITA.
Menunggu berjam-jam tidaklah mudah bagi seorang perempuan berusia 76 tahun, tetapi keteguhan dan tekadnya begitu nyata. Berkat arahan Rektor UIN Datokarama Palu serta dukungan panitia dari Kementerian Agama Provinsi, akhirnya Mami Maryam mendapat kesempatan bertatap muka langsung dengan Menteri Agama di tengah keramaian peserta. Momen singkat itu menjadi anugerah dan kebanggaan besar, terutama bagi Mami Maryam, yang terlihat haru sekaligus lega.
Dari gestur dan tutur beliau, terlihat satu harapan besar: sebelum Sang Khalik memanggil pulang, beliau ingin melihat karyanya hadir dalam bentuk buku dan berada di tangan pembaca. Sebuah cita-cita yang sederhana namun penuh makna.
Perjalanan ini mengajarkan satu nilai penting, terutama bagi generasi muda: peluang tidak datang dua kali. Peluang harus direbut. Soal hasil, biarlah menjadi urusan belakang.***
—-
Sumber : Moh Nur Korompot





