BUOL — Peringatan Maulid Arbain ke-7 yang digelar di Masjid Agung At-Tafakur, Kabupaten Buol, Rabu (5/8/2026) malam, tidak sekadar menjadi agenda keagamaan tahunan, tetapi juga memunculkan pertanyaan penting bagi masyarakat: sejauh mana nilai-nilai yang disampaikan benar-benar diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan yang berlangsung sekitar pukul 19.30 WITA itu dihadiri oleh Bupati dan Wakil Bupati Buol, Ketua DPRD, jajaran pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), tokoh agama, tokoh masyarakat, serta ratusan jamaah. Masjid tampak dipadati peserta yang mengikuti rangkaian acara dengan khidmat, diawali lantunan salawat dan pembacaan syair pujian kepada Nabi Muhammad SAW.
Dalam sambutannya, Bupati menegaskan bahwa Maulid Arbain seharusnya tidak dimaknai sebagai rutinitas seremonial semata. Ia menyebut momentum tersebut sebagai ruang refleksi untuk memperkuat hubungan antara pemerintah daerah dan masyarakat, sekaligus meneladani akhlak Nabi dalam praktik kehidupan sosial.
Wakil Bupati turut menyoroti tingginya partisipasi masyarakat dan aparatur pemerintah yang hadir. Menurutnya, antusiasme tersebut mencerminkan kuatnya nilai kebersamaan dan spiritualitas warga Buol. Namun, kondisi itu juga menjadi indikator ekspektasi publik terhadap peran pemerintah dalam menghadirkan keteladanan yang konsisten.
Di sisi lain, peringatan keagamaan seperti Maulid Arbain kerap mendapat perhatian sebagai ruang penguatan moral kolektif. Masyarakat menilai, pesan-pesan yang disampaikan dalam forum tersebut perlu diikuti dengan langkah konkret, terutama dalam membangun etika pelayanan publik, kejujuran, serta kepedulian sosial di tengah berbagai tantangan daerah.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan tausiyah dan doa bersama yang berisi harapan akan keselamatan, kedamaian, serta kemajuan Kabupaten Buol ke depan. Meski berlangsung penuh kekhusyukan, substansi utama yang mengemuka tetap pada satu hal: kebutuhan akan implementasi nyata nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan bermasyarakat dan tata kelola pemerintahan.***
