Sekitar 400 pemuda dan remaja memadati Jemaat Nekmese Duamayo, Desa Duamayo, Kecamatan Bokat, Jumat (1/5), dalam rangka Selebrasi Paskah dan Bible Camp Pemuda/Remaja Sinode GPIBT Tahun 2026. Pertemuan lintas wilayah dari Buol dan Tolitoli ini menjadi ruang pembinaan iman sekaligus ajang penguatan kebersamaan generasi muda.
Di tengah kegiatan tersebut, isu toleransi mencuat sebagai salah satu pesan utama. Bupati Buol Risharyudi Triwibowo menegaskan bahwa praktik intoleransi tidak boleh berkembang di daerah, sembari mengingatkan pentingnya peran pemuda dalam menjaga persatuan, meningkatkan kualitas pendidikan, serta menjauhi pengaruh negatif seperti narkoba.
Pernyataan itu sekaligus mencerminkan respons terhadap tantangan sosial yang semakin kompleks. Penguatan nilai toleransi dinilai tidak cukup hanya melalui kegiatan sesaat, melainkan perlu ditopang program pembinaan yang berkelanjutan dan terukur agar berdampak nyata di tengah masyarakat.
Kegiatan yang mengusung tema “From Calvary to The New Life” ini, menurut Ketua Panitia Arta Umar, dirancang untuk membangun karakter pemuda berbasis nilai keimanan sekaligus mempererat hubungan antaranggota jemaat.
Pandangan serupa disampaikan Ketua Pelayanan Kategorial Pemuda Remaja Sinode GPIBT, Florendo Pandengsolang, yang menilai Bible Camp menjadi ruang refleksi spiritual di tengah tekanan kehidupan modern. Sementara itu, Ketua Sinode GPIBT, Pdt. Ch. A. J. Kaparang-Sambouw, mengingatkan bahwa generasi muda ke depan akan memegang peran penting sebagai penerus pelayanan gereja dan agen perubahan sosial.
Ia juga menyinggung potensi ekonomi kreatif jemaat, seperti kerajinan tenun, yang dinilai perlu mendapat dukungan lebih konkret dari pemerintah daerah guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Secara rangkaian, kegiatan diawali dengan penyambutan adat berupa Tari Gong dan pengalungan kain tenun kepada Bupati, dilanjutkan parade peserta serta ibadah pembukaan. Sejumlah pejabat daerah, unsur DPRD, aparat kepolisian, hingga tokoh gereja turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Sebagai bentuk dukungan, pemerintah daerah menyerahkan bantuan sebesar Rp20 juta untuk pelaksanaan kegiatan. Meski demikian, kebutuhan akan dukungan yang lebih berkelanjutan dalam pembinaan generasi muda tetap menjadi catatan penting.
Kegiatan berlangsung selama dua hari hingga 2 Mei 2026 dengan berbagai agenda rohani dan pembinaan karakter. Diharapkan, forum ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi mampu mendorong lahirnya generasi muda yang berintegritas, peduli sosial, serta berkontribusi dalam pembangunan daerah yang harmonis.***
