Miniatur Masjid Jadi Ikon Penampilan Buol pada Pawai MTQ Sulteng di Kabupaten Sigi

banner 468x60

SIGI — Pelaksanaan Pawai Ta’aruf dalam rangka Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-31 tingkat Provinsi Sulawesi Tengah di Kabupaten Sigi menjadi salah satu titik perhatian publik, terutama dari penampilan kafilah Kabupaten Buol yang menonjol melalui konsep visual dan pesan simbolik yang diusung.

Kafilah Buol tampil di ruas jalan utama lokasi kegiatan dengan barisan tertata dan membawa mobil hias berbentuk miniatur masjid. Elemen ini tidak hanya menjadi daya tarik visual, tetapi juga memantik perhatian masyarakat yang memadati jalur pawai sejak awal hingga akhir kegiatan.

Miniatur tersebut merepresentasikan nilai-nilai keislaman yang ingin disampaikan, mulai dari fungsi masjid sebagai pusat ibadah hingga simbol penguatan syiar Al-Qur’an di tengah masyarakat. Namun demikian, kemunculan simbol ini juga dapat dibaca sebagai pesan bahwa kegiatan seremonial keagamaan diharapkan tidak berhenti pada tampilan, melainkan diikuti dengan penguatan implementasi nilai di tingkat masyarakat.

Ketua kafilah Kabupaten Buol, Kasim Rauf, menjelaskan bahwa partisipasi dalam pawai tidak semata bersifat seremonial, tetapi juga sebagai momentum mempererat hubungan antardaerah sekaligus mengingatkan pentingnya Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.

Di sisi lain, rombongan kafilah terdiri dari qari, qariah, hafiz, hafizah, serta tim ofisial yang mengenakan busana muslim dan pakaian adat daerah. Kehadiran unsur budaya lokal dalam balutan kegiatan religius menjadi penanda bahwa identitas daerah tetap dihadirkan dalam ruang-ruang keagamaan.

Partisipasi aktif Kabupaten Buol dalam Pawai Ta’aruf ini sekaligus menjadi sinyal kesiapan mengikuti seluruh rangkaian lomba MTQ tingkat provinsi. Meski demikian, capaian yang diharapkan tidak hanya sebatas prestasi kompetitif, tetapi juga sejauh mana kegiatan ini mampu memberi dampak nyata terhadap peningkatan literasi dan pengamalan Al-Qur’an di masyarakat.

Kemeriahan yang ditampilkan di ajang ini pada akhirnya menjadi pengingat bahwa keberhasilan MTQ tidak hanya diukur dari estetika pawai atau perolehan juara, melainkan dari konsistensi pembinaan dan implementasi nilai keagamaan setelah kegiatan berakhir.***

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *