Hilirisasi Garam di Buol Didorong Lewat Kerja Sama, Mampukah Tingkatkan Ekonomi Warga?

BUOL – Pemerintah Kabupaten Buol mulai mengarahkan penguatan sektor unggulan daerah melalui strategi hilirisasi berbasis potensi lokal, salah satunya dengan menjajaki kerja sama pengembangan industri garam konsumsi. Langkah ini dibahas dalam pertemuan daring bersama PT Garam (Persero) yang digelar melalui Zoom Meeting dari Ruang Kerja Sekretaris Daerah, Kamis (21/5).

Pertemuan tersebut dipimpin Sekretaris Daerah Moh. Yamin Rahim dan diikuti sejumlah pejabat daerah, mulai dari unsur asisten, staf ahli, pimpinan OPD terkait, hingga perwakilan Perumda Berkah. Diskusi difokuskan pada peluang pembentukan sentra industri pengolahan garam konsumsi di wilayah pesisir Buol.

Dalam pemaparan, pemerintah daerah menekankan sejumlah keunggulan yang dinilai dapat menopang pengembangan industri ini, seperti ketersediaan lahan pesisir, dukungan kebijakan daerah, serta keterlibatan masyarakat lokal yang selama ini telah mengelola produksi garam secara mandiri.

Secara konsep, rencana ini dinilai memiliki prospek ekonomi yang cukup menjanjikan. Selain menjadi bagian dari program hilirisasi industri, pengembangan sektor garam juga disebut berpotensi membuka lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan masyarakat pesisir, serta memperkuat pasokan garam beryodium di Sulawesi Tengah.

Namun demikian, peluang tersebut belum sepenuhnya menjamin realisasi dalam waktu dekat. Pihak PT Garam (Persero) dalam forum tersebut menyambut positif inisiatif Pemkab Buol, tetapi menegaskan bahwa kerja sama masih berada pada tahap awal dan memerlukan kajian mendalam.

Evaluasi yang akan dilakukan mencakup berbagai aspek krusial, mulai dari kualitas sumber daya alam, kelayakan produksi, hingga skema kemitraan yang dinilai menguntungkan semua pihak. Artinya, keputusan akhir tidak hanya bergantung pada potensi daerah, tetapi juga pada standar industri nasional yang harus dipenuhi.

Jika hasil kajian dinilai memenuhi kriteria, tahapan berikutnya akan dilanjutkan dengan penyusunan nota kesepahaman (MoU) serta survei lapangan oleh tim teknis PT Garam ke wilayah Buol. Tahap ini akan menjadi penentu apakah rencana tersebut benar-benar dapat diwujudkan atau tidak.

Di sisi lain, rencana pengembangan industri garam ini juga memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak, khususnya terkait kesiapan infrastruktur, pendampingan kepada masyarakat, serta transparansi skema kerja sama. Tanpa perencanaan yang matang, proyek industri berpotensi tidak berjalan optimal atau bahkan tidak berkelanjutan.

Pemerintah Kabupaten Buol berharap penjajakan ini dapat menjadi langkah awal dalam membangun ekosistem industri garam yang berdaya saing dan berkelanjutan. Namun, masyarakat tetap perlu mencermati perkembangan ini secara kritis, agar manfaat ekonomi yang dijanjikan benar-benar dirasakan secara luas, bukan sekadar berhenti pada tahap perencanaan.***

Pos terkait