BUOL — Jaringan Jaga Deca memperkenalkan keberadaan, latar belakang gerakan, serta jejaring kerjanya kepada insan pers di Kabupaten Buol. Pengenalan tersebut berlangsung melalui media gathering bersama pimpinan redaksi dan jurnalis media massa se-Kabupaten Buol yang digelar di Sekretariat Jaringan Jaga Deca, Rabu (9/9/2026).
- Berawal dari Gerakan Literasi, Berkembang ke Pendampingan Masyarakat
Pertemuan tersebut menjadi momentum bagi Jaga Deca untuk membuka komunikasi lebih luas dengan media sekaligus menjelaskan posisi organisasi yang selama ini bergerak pada sejumlah isu masyarakat, mulai dari literasi, pendampingan petani dan buruh, hingga persoalan pangan berkelanjutan.
Founder sekaligus Ketua Jaringan Jaga Deca, Fatrisia Ain, mengatakan organisasi tersebut tidak lahir secara tiba-tiba. Gerakannya telah mulai diinisiasi sejak 2020 melalui kegiatan literasi yang kemudian berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat dan persoalan yang ditemukan di lapangan.
Menurut Fatrisia, aktivitas Jaga Deca selanjutnya meluas ke pendampingan petani plasma, isu buruh dan perkebunan di Morowali Utara, hingga pendampingan terhadap buruh pertambangan nikel di Morowali. Dalam perkembangannya, perhatian organisasi kini turut diarahkan pada upaya mendorong pangan berkelanjutan.
“Jaga Deca berawal dari gerakan-gerakan literasi sejak 2020, kemudian berkembang pada pendampingan petani plasma, pendampingan buruh dan perkebunan di Morowali Utara, termasuk buruh pertambangan nikel di Morowali. Saat ini kami juga berkembang pada isu pangan berkelanjutan. Area kerja kami berada di Sulawesi Tengah dan sejauh ini kami juga bergabung dengan sejumlah organisasi di Sulteng untuk membangun jaringan keamanan yang holistik,” jelas Fatrisia.
Ia menambahkan, kerja Jaga Deca tidak hanya berkutat pada persoalan ekonomi dan agraria. Organisasi tersebut juga memberi perhatian terhadap pemulihan psikososial dengan membangun kolaborasi bersama sejumlah lembaga bantuan hukum di Kota Palu.
“Jaga Deca juga memiliki fokus pada pemulihan psikososial yang kami kerjakan secara kolaboratif bersama teman-teman LBH di Kota Palu. Jadi pendekatan yang kami bangun tidak hanya melihat persoalan dari satu sisi, tetapi juga memperhatikan aspek sosial, hukum dan kondisi psikologis masyarakat yang terdampak,” ujarnya.
- Resmi Terdaftar dan Mulai Memperkuat Kelembagaan
Secara kelembagaan, Jaringan Jaga Deca resmi terdaftar pada 2024. Ke depan, organisasi ini tengah memikirkan penguatan bentuk kelembagaan menjadi sebuah non-governmental organization (NGO) agar komunikasi dan kerja sama dengan berbagai pihak dapat dilakukan secara lebih luas dan terstruktur.
Dalam kesempatan tersebut, Fatrisia juga menjelaskan mengenai sumber dukungan yang selama ini memungkinkan Jaga Deca menjalankan sejumlah kegiatannya. Penjelasan itu disampaikan sekaligus untuk meluruskan anggapan yang berkembang di tengah masyarakat bahwa aktivitas Jaga Deca didanai atau disponsori perusahaan tertentu.
Ia menyebut Jaga Deca justru berupaya membuka dan membangun jaringan dengan berbagai kelompok masyarakat sipil, termasuk jaringan yang berada di luar negeri. Salah satunya adalah Coalition for Human Rights in Development, sebuah koalisi global yang terdiri atas gerakan sosial, organisasi masyarakat sipil, serta kelompok akar rumput yang bekerja pada isu hak asasi manusia dalam pembangunan.
“Jaga Deca lebih banyak membuka jaringan-jaringan, dan rata-rata jaringan kami juga ada yang berada di luar negeri. Salah satunya Coalition for Human Rights in Development yang turut memberikan dukungan untuk operasional Jaringan Jaga Deca,” kata Fatrisia.
Dukungan yang diterima, lanjut dia, tidak semata-mata berbentuk pembiayaan operasional. Kolaborasi juga dapat berupa dukungan layanan hukum serta berbagai bentuk dukungan lain yang berkaitan dengan kebutuhan kerja organisasi di lapangan.
- Struktur dan Jejaring Kerja Jaga Deca
Pada media gathering itu, Fatrisia turut memperkenalkan struktur awal Jaringan Jaga Deca. Selain dirinya sebagai ketua, terdapat Seniwati sebagai sekretaris, Ernayanti sebagai bendahara, Ali sebagai pengawas, serta seorang peneliti yang berdomisili di Yogyakarta. Kelima orang tersebut menjadi bagian dari pendiri NGO Jaringan Jaga Deca, sementara sejumlah anggota lainnya bekerja secara mobile sesuai kebutuhan kegiatan dan wilayah pendampingan.
Selain memperkenalkan organisasi, Jaga Deca juga memaparkan sejumlah agenda yang berkaitan dengan peringatan Hari Tani Nasional 2026. Rangkaian kegiatan tersebut mengusung tema “Merebut Kembali Ruang Hidup, Memperkuat Kuasa Rakyat untuk Mewujudkan Keadilan Agraria.”
Rangkaian agenda tersebut diawali dengan Rural Convening pada 1 September 2026. Selanjutnya, Jaga Deca menjadwalkan dialog publik mengenai efektivitas harga Tandan Buah Segar (TBS) pada 14 September, Karnaval Hari Tani pada 24 September, serta Climate Camp pada 26–28 September.
- Dari Buol Terhubung ke Jejaring Internasional
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup melalui agenda Women Exchange yang dijadwalkan berlangsung pada 2–4 Oktober 2026.
Kehadiran Jaringan Jaga Deca di Buol menjadi warna baru dalam perkembangan organisasi masyarakat sipil di daerah. Tidak hanya membawa isu lokal seperti petani, buruh, pangan, lingkungan dan ruang hidup ke ruang publik, Jaga Deca juga mulai memperkenalkan model kerja yang menghubungkan gerakan masyarakat di daerah dengan jejaring masyarakat sipil di tingkat nasional hingga internasional. Dengan posisi tersebut, keberadaan Jaga Deca menarik untuk dilihat bukan semata sebagai organisasi lokal baru, tetapi sebagai upaya membangun kanal dari persoalan masyarakat Buol menuju jejaring advokasi yang lebih luas.***
